Lari Bukan Pelari
Sebetulnya orang yang melakukan lari bisa kita sebut sebagai pelari. Tapi di kondisi saat ini, kata pelari mulai terkesan sakral.
Dia yang bisa berlari dengan pace kencang dan konsisten dengan jarak yang jauh. Minimal harian 10 KM lah, atau yaaa mungkin 21 KM setara dengan Half Marathon. Mungkin ini yang baru bisa disebut sebagai pelari.
saya suka lari, mungkin bisa dibilang rutin. Seminggu minimal 3 kali, kalau lagi ngerasa banyak pikiran yang ga nyaman mungkin bisa 5 atau 6 kali dalam seminggu. Tapi jarak tidak jauh, sekedar 3,5 KM sampai 5 KM aja, dan pace juga tidak kencang, hanya di 8-9, kalau sampai 6 beneran lagi ada yang salah di pikiran.
Dan saya bilang saya suka lari, tapi bukan pelari. Saya mencoba menghormati budaya umum di sekitar saja, untuk masuk ke circle pelari juga sepertinya banyak check list-nya yah.
Lari Bukan Sekedar Olahraga, tapi ini Budaya
Sesuatu hal bisa dikatakan budaya di saat terdapat nilai atau norma yang bisa dipelajari, atau diturunkan tata caranya. Tata cara yang dimaksud bukan sekedar form saat berlari untuk meminimalisir cidera dan optimal saat lari.
Lebih dari itu, ini terkait penerimaan sosial. Seperti apa saja contohnya?
Coba saya gambarkan yang ada di kepala saya ya, seperti :
1. mengerti istilah-istilah umum yang biasa digunakan, seperti pace, HR (heart rate), interval run, BIB, FM, HM. Apa lagi yaa?
2. Pakaian yang fit, bukan hanya fit dengan tubuh tapi fit secara merk/brand. Alih-alih mengatasnamakan kenyamanan saat berlari, sebenernya banyak juga yang condong kenyamanan dalam penerimaan sosial.
3. Strava, bukan lagi pengingat kita dalam berorlahraga dan menjadi bagian motivasi dalam berolahraga. Tapi story strava sudah menjadi bagian penting modal sosial untuk merasa nyaman dalam upaya mengesankan benak sosial. Belum tentu mengesankan, kan masih upaya.
Mungkin ini hanya sebagian dari penjelasan contoh lari bukan hanya olahraga, namun budaya. Sepertinya budaya di era sekarang sudah harus cakap dipelajari oleh banyak orang, terutama orang yang membutuhkan “marketing”. Dari yang suka suka saja atau passionate, bahkan yang bekerja dan mencari nafkah dengan profesi itu.
Karena dibalik output marketing untuk bisa meluaskan pasar atas brand dan produk, dan bisa menyupport aktivitas konversi dalam mengakuisisi sampai mendapatkan omset. Perlu adanya proses memahami pikiran, bayang-bayang, anggapan orang yang menjadi target market.
Kira-kira dari 3 contoh budaya lari yang saya sebutkan di atas, brand apa ya yang bisa cocok membuat aktivasinya?
Mungkin bisa kita bahas sambil ngopi bareng, langsung aja kita buat janji temu via whatsapp di nomor yang tercantum pada informasi kontak ya.
