Mengingat Qurban
Hari Raya Idul Adha yang diperingati umat muslim di tiap tahunnya, kerap disebut juga Idul Qurban, atau lebaran haji. Sebutan ini bisa digunakan senyaman yang mengucapkan, tergantung lebih erat mana di kepala. Setiap orang memiliki besaran kepentingan yang berbeda atas niat baik yang dikejar.
Ada yang bersusah payah untuk bisa tiap tahunnya menyisihkan uang untuk membeli kambing, domba ataupun sapi. Ada pula yang menyiapkan dana khusus serta kesiapan usia dan fisik untuk mencapai waktunya berangkat haji.
Namun inti dari semua ibadah ini adalah “Keyakinan”.
Semua sudah tau ceritanya, mungkin beda keyakinannya
Cerita Nabi Ibrahim yang menyembelih anaknya Nabi Ismail dan dengan “Cring” kuasa Allah SWT menggantikan posisi Nabi Ismail saat disembelih merupakan cerita berulang tiap tahunnya untuk menjadikan dorongan atau mengilas balik kenapa adanya ibadah Qurban.
Semua bisa tau ceritanya, namun tidak semua mengaji rasanya.
Sebesar apa keyakinan yang dimiliki Nabi Ibrahim, sampai ia meyakini bahwa perintah Allah SWT baik dan benar?
Menyembelih leher seorang manusia adalah sebuah tindakan yang kita yakini tidak baik dan tidak benar. Mungkin hal ini akan menjadi lebih diterima saat kondisi genting, saat menjaga diri dari serangan manusia lain yang pasti sudah kita cap sebagai musuh.
Namun, di saat diletakan pada seorang anak yang kita dambakan kehadirannya bertahun-tahun lamanya. Berharga, kesayangan, cinta yang luar biasa, anugerah, karunia, melindungi merupakan kata-kata yang lebih dekat dibanding menyembelih atau mengurbankan.
Qurban dan keyakinan pilihan dalam hidup
Saya di tulisan ini tidak meluas pada keyakinan pada agama, jadi cukup sampai sana saja. Hanya ingin mematik luasnya perasaan dan landasan berpikir untuk masuk ke pembahasan “pilihan dalam hidup”.
Seberapa sering kita memilih cara hidup kita atas keyakinan orang lain?
Atas keyakinan benar yang ada di Tiktok, ataupun baik yang kita dengar panjang di youtube. Sialnya banyak keindahan fana atas keyakinan orang lain yang terpampang di postingan teman Instagram atau hiburan beruntun di reels.
Mungkin itu terlalu jauh harusnya, yang lebih dekat seberapa kita dibuat overthinking atas pendapat pasangan, orangtua, teman dekat atau sahabat yang menilai kemampuan diri kita sebatas aktivitas hidup bersama mereka.
Apa mungkin Nabi Ibrahim tidak overthinking dengan tangisan Siti Hajar pada waktu ke waktu dan sampai di proses penyembelihan Nabi Ismail?
Usaha Kita Erat Dengan Keyakinan Kita
Apa kabar keyakinan kita dalam cara kita, langkah kita, dalam membangun dan membuat peran atas usaha kita?
Menanam, memupuk dan menuai nilai adalah usaha kita yang kita yakini sebagai alat untuk hidup dan menghidupi.
Mungkin sebenarnya mereka tidak perlu melihat proses kita, biarkan mereka berperan mengartikan setelah mendapat atau berjalan bersama dari hasil usaha yang kita yakini.
Kita Boleh Bahagia, Boleh banget
Boleh bahagia merupakan teman perjalanan usaha mu. Kami bisa bantu kamu membuat rumah digital dengan grounded marketing sesuai nilai usaha mu dan manfaat yang dibutuhkan konsumen mu.
Kamu bisa langsung hubungi kami, melalui Juragan BoBa Rahadyan (Ady) di Instagram pribadi @yaudahsihmen
Mari kolaborasi.
